Komplikasi Pemberian Radioterapi Pada Pasien Karsinoma Nasofaring di Poli THT-KL RSPAL Dr Ramelan Surabaya Periode Januari 2021 - Januari 2022

Authors

  • Yofita Supra Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

DOI:

https://doi.org/10.30649/v4i3.66

Keywords:

komplikasi, Karsinoma Nasofaring, Radioterapi

Abstract

Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis tumor ganas yang terjadi pada sel epithel nasofaring yang disebabkan oleh Eibstein-Barr Virus (EBV). Manajemen terapi KNF adalah radioterapi karena tumor umumnya bersifat radiosensitif. Komplikasi pemberian radioterapi pada pasien KNF dapat terjadi di kulit (hiperpigmentasi), gigi dan mulut (xerostomia), mata (gangguan penglihatan), telinga (ototksisitas), hidung (nasopharyngeal hemorrage) dan saraf limfe (benjolan unilateral). Tujuan dari peneltian ini untuk mengetahui komplikasi radioterapi pasien karsinoma nasofaring di poli THT-KL RSPAL Dr Ramelan Surabaya Periode Januari 2021 – Januari 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian menggunakan pasien KNF dengan radioterapi yang memiliki komplikasi pada kulit, gigi dan mulut, mata, telinga, hidung dan saraf limfe yang tercatat di rekam medis Poli THT-KL RSPAL Dr Ramelan Surabaya Periode Januari 2021 – Januari 2022. Hasil penelitian menunjukkan 40 kasus pasien KNF dengan radioterapi  yang memiliki komplikasi.  Angka kejadian komplikasi kulit didapatkan 0 kasus (0%). Angka kejadian komplikasi gigi dan mulut didapatkan 30 kasus (35%) dengan kasus tertinggi pada pasien odinofagia sebanyak 13 kasus (43%). Angka kejadian komplikasi mata didapatkan 7 kasus (8%) dengan kasus tertinggi pasien kebutaan sebanyak 3 kasus (43%). Angka kejadian komplikasi telinga didapatkan 18 kasus (21%) dengan kasus tertinggi pada pasien tinnitus sebanyak 10 pasien (56%). Angka kejadian komplikasi hidung didapatkan 15 kasus (17%) dengan kasus tertinggi pasien rhinorrhea sebanyak 11 pasien (73%). Angka kejadian komplikasi saraf didapatkan 8 kasus (9,5%) dengan kasus tertinggi pasien sefalgia sebanyak 7 pasien (87%). Angka kejadian komplikasi limfe didapatkan 8 kasus (9,5%) pembesaran KGB.

References

1. Du T, Xiao J, Qiu Z, Id KW. The effectiveness of intensity- modulated radiation therapy versus 2D-RT for the treatment of nasopharyngeal carcinoma : A systematic review and meta- analysis. J Public Libr Sci Glob Public Heal. 2019;1–14.

2. Mangunkusumo E. Buku teks komprehensif ilmu THT-KL telinga, hidung, tenggorok kepala- leher. Balfas HA, Hermani B, editors. Jakarta: Buku kedokteran EGC; 2019. 502–509 p. Sun X. Nasopharyngeal carcinoma special feature : Review Article Future of Radiotherapy in Nasopharyngeal Carcinoma. Br J Radiol. 2019;(February).

3. Howlett J, Hamilton S, Ye A, Jewett D, Riou-Green B, Prisman E, et al. Treatment and outcomes of nasopharyngeal carcinoma in a unique non-endemic population. J Oral Oncol [Internet]. 2021;114(December 2020):105182. Available from:

https://doi.org/10.1016/j.oraloncolo gy.2021.105182

4. Romdhoni AC, Shoffi MN. Pemeriksaan Epstein-Barr VirusEncoded Small RNA (EBER) sebagai Identifikasi Infeksi Virus Epstein-Barr pada Karsinoma Nasofaring. Oto Rhino Laryngol Indones. 2017;47(2).

5. Shoffi MN, Halim AS, Diarsvitri W. Karakteristik Klinis dan Histopatologi Karsinoma Nasofaring di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya. Surabaya Biomed J. 2021;1(1):31–8.

6. Wackym PA, Snow JB. Anatomy and Physiology of the Oral Cavity, Oropharynx, Salivary Glands and Neck. 18th ed. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Shelton: People’s Medical Publishing House; 2016. 1399–1407 p.

7. Baudelet M, Steen L Van Den, Tomassen P. Very late xerostomia , dysphagia , and neck fibrosis after head and neck radiotherapy. J Wiley Head neck. 2019;41(May):1–10.

8. Setyawan A, Djakaria HM. Efek dasar Radiasi Pada Jaringan. Radioter Onkol Indones. 2014;5(1):25–33.

9. Chu C, Hu K, Wu RS, Bau D.

Radiation-irritated skin and hyperpigmentation may impact the quality of life of breast cancer patients after whole breast radiotherapy. J Biomed Cent Cancer. 2021;21(1):1–8.

10. Brook I. Early side effects of radiation treatment for head and neck cancer. J Cancer / Radiother.

2021;25(5):507–13.

11. Gishti O, Keizer ROB de, Paridaens SED& D. Radiation optic neuropathy and retinopathy in patients with presumed benign intraorbital tumours treated with fractionated stereotactic radiotherapy. J Eye. 2022;1–5.

12. Malgonde MS, Kumar M. Radiotherapy-enhanced ototoxicity in elderly. J South Asian J Cancer. 2014;3(4):221–2.

13. Aninditha T, Soebroto AD, Nurhayati E. Komplikasi Neurologis pada Karsinoma Nasofaring. eJournal Kedokt Indones. 2018;6(2):123–7.

14. Zhan J, Zhang S, Wei X, Fu Y, Zheng J. Etiology and management of nasopharyngeal hemorrhage after radiotherapy for nasopharyngeal carcinoma. J Cancer Manag Res. 2019;11:2171–8.

15. Kong F, Zhou J, Du C, He X, Kong L, Hu C, et al. Long-term survival and late complications of intensity- modulated radiotherapy for recurrent nasopharyngeal carcinoma. J Biomed Cent Cancer. 2018;18(1):1–8.

16. Bhandare N, Moiseenko V, Song WY, Morris CG, Bhatti MT, Mendenhall WM. Severe dry eye syndrome after radiotherapy for head-and-neck tumors. Int J Radiat Oncol Biol Phys. 2012;82(4):1501– 8.

17. Gilli C, Thariat J, Chacun S,

Downloads

Published

2025-06-15

Issue

Section

ARTIKEL PENELITIAN

How to Cite

Komplikasi Pemberian Radioterapi Pada Pasien Karsinoma Nasofaring di Poli THT-KL RSPAL Dr Ramelan Surabaya Periode Januari 2021 - Januari 2022. (2025). Surabaya Biomedical Journal, 4(3), 125-138. https://doi.org/10.30649/v4i3.66

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.